Ajimat Contekan

AJIMAT CONTEKAN

 

Hari ini ulangan  harian, hari masih pagi namun kelas Ku sudah sibuk, bukan menghapal tapi mencatat. Ada sih sebagian yang membaca tapi lebih banyak lagi yang sibuk mencari isi jawaban soal bocoran! Luar biasa!!!

“Kamu sudah bikin contekan?” Tanya farid teman dibelakangku.

“Contekan?” tanyaku tak mengerti,  meletakan tas di dalam meja.

“Iya, contekan!” tegas Farid nadanya agak kesal.

“Buat apa?” tanyaku masih heran, bukanlah ulangan ini sudah di umumkan minggu kemarin,  tentu cukup dong buat menghapal atau mempelajari walaupun masih banyak ulangan pelajaran lain dan juga  tugas-tugas yang membebani.

“ Ya buat jaga-jaga,tau! kalau bisa ya di isi sendiri, kalau kepepet baru di pake, gampang kan!! gitu aja kok repot” farid menirukan ucapan ulama terkenal yang jadi terkenal itu ucapan-ucapannya yang controversial.

“ Rasa itu gak perlu, kita kan udah cukup mempelajarinya dan memahami atau menghapalnya. Soal bisa dan ngga itu urusan nanti gimana terjadinya aja deh. Simple kan?” kataku, Farid ini aneh, dia repot banget kok bilang aku repot  sih. Padahal aku sih orangnya nyatai aza, mengalir seperti air, cuek.

“ Ah, lo! sok munafik banget sih ! si ustad aja yang juara kelas dan ketua ROHIS bikin contekan. Siapa sih elo? cuma anak baru yang tak pintar-pintar amat! Sok nasehatin segala”Farid berkata judes.

Lho kok marah? Aku tak bertanya lebih lanjut apalagi beradu argument. Tak ada waktu, jam pelajaran pertama sepuluh menit lagi, lagi pula sepertinya marah dan tak mau bicara lagi. Ia sibuk membaca contekannya itu. Aku harus melihat lagi pelajaran yang akan di  ulangankan, sekilas-sekilas saja, sekedar menguatkan memori.

Seminggu kemudian aku bertandang ke rumah Andri, atas ajakannya sebagai teman baru dan sebangku, aku juga ingin tahu diman rumahnya dan kenal lebih dekat.

“ Kamu udah bikin contekan buat ulangan besok San,” Tanya Andri mengingatkan Aku pada perdebatan dengan Farid dan kebiasaan kelas baruku atau mungkin kebiasaan seluruh kelas-kelas disekolahku?

“Contekan apa maksudmu?” tanyaku santai, walaupun kaget karena ucapannya, Farid ada benarnya tapi aku berusaha tak menilai duluan, dan berbaik  sangka saja.

“ Contekan itu… rangkuman! Ya, rangkuman. Dulu waktu SMP guru favoritku supaya cepat hapal pelajaran kita harus sering bikin rangkuman. Dalam catatan kecil, praktis dan mudah di ingat dan di bawa.” Kata Andri mengarahkan pikiran ku ke jawaban positif.

“ Begini dalam proses perangkuman itu kita kan membaca, nah satu point menghapal pelajaran dalam proses membaca itu di dapat, lalu proses menuliskannya berarti sudah dua kali  proses penghapalan di otak, belum lagi sesudahnya dapat dibaca berulang-ulang kapanpun dimanapun karena kertasnya kecil mudah dilipat dan dibawa-bawa kemana-mana. Satu buku paling Cuma setengah lembar dipanjangkan kertas folio. Jadi tanpa sadar tanpa sadar kita melakukan proses penghapalan, penyimpanan menori. Anak yang malas belajarpun paling tidak telah membuka dan mengingatnya dua kali.” Jelas Andri karena aku masih terdiam.

Argumen Andri sih bolehlah, aku masih bisa menerimanya, bagus memang.

“Lalu setelah itu contekannya di buangkan?” kataku

“Tentu saja tidak. Ada satu hal lagi yang harus kita ingat selain kemampuan, orang berhasil karena rasa percaya diri yang tinggi atau sugesti yang kuat. Maksud aku, kita harus punya sugesti bahwa kita bisa ingat dan tenang itulah, kertas ini dibawa disimpan disaku sebagai pegangan. Untuk menambah rasa percaya diri, ketenangan . Sugesti saja. Tak dicontek kok, cuma pegangan saja.” Jelas Andri. Hm, masuk akal, teknik  dan taktik yang bagus, Andri memang anak yang pintar dan mungkin cerdas. Tapi mungkin ada satu hal yang aku rasa tidak sreg dihati, tak sependapat soal kata ‘pegangan’ yang terakhir. Aku ingin mengemukan argumenku.

“ Tapi kan itu sama saja berniat curang lagi pula ada aturan sekolah yang melarang menyimpan atau membaca buku atau contekan apapun kedalam kelas.”

Itu kan Cuma formalitas aja. Lagi pula mana pernah sih guru segitu kilernya sampai menggeladah pakaian segala. Lagi pula kita tak pernah menyontek atau berniat curang, percayalah. Aku juga tau dosa dan aturan” Andri menutup pembicaraan dengan mengajak aku makan.

Aku tak meneruskan pemikiran ku, masak silaturahmi di isi dengan debat sih. Lagi pula aku anak baru disekolah, mengenal Andri belum lama baru tiga minggu tak pantas atau sok nasehatin pada teman baru bisa-bisa jadi masalah.lagi pula andri tampaknya yakin apa yang dilakukannya itu benar. Tidak ada yang salah. Andri kan anak juara kelas bertahan, walaupun jarang nanya, debat, atau menjawab ke guru. Andri selalu mendapat nilai tertinggi, Tugas-tugasnya pun selalu mendapat nilai terbaik. Lagi pula dia juga dijuluki ustad di sekolah karena rajin shalat, rajin mengaji, Ketua ROHIS dan menguasai hapalan hadis,  hapalan Qur’annya banyak dan jago fiqih. Masa sih Aku tak percaya pada alim ulama sekolah seperti dia?

Mengenal Andri, teman? Sekelas dan siswa sekolah baruku semakin lama semakin banyak yang ku tahu dan memang banyak perbedaan. Aku orannya nyatai, jarang menghapal cukup memperhatikan apa yang diterangkan oleh guru memahaminya lalu tersimpan di memori dengan kuat. Menghapal dirumah tak pernah ku lakukan seperti Andri atau yang lainnya. Paling- paling membaca dan mengingat-ingat pemahaman. Setelah itu aku santai saja ulangan gimana nanti bukan nanti gimana. Berjalan saja seperti biasa serasa tak ada ulangan harian baik Midtest ataupun UAS. Aku tak terlalu mengejar nilai. Yang penting bagiku aku paham dan bisa berdiskusi aktif dengan guru. Aku bisa mendapat semua ilmu dan bebas berpendapat. Makanya tak heran, nilai ulangan tak terlalu bagus, karena jawaban yang diberikan tak sama dengan yang dibuku atau kata-katanya tak sama persis. Walaupun maksud dan tujuannya sama tapi cara penulisannya adalah gayaku, pemikiranku, Essay atau isian kebayakan gurukan ingin sama persis yang dibuku, tak boleh beda sekata atau kalimat pun apalagi ada pemikiran dan pendapat pribadi, berate X atau salah semua.

Setahun telah kulewati disekolah yang baru tibalah Ujian Akhir Sekolah yang menjadi penentuan setiap siswa untuk lulus dan tidak. Tiga tahun ditentukan tiga hari dengan 3 Mata Pelajaran UAN, padahal ada banyak pelajaran yang diberikan di sekolah ini lebih dari tga belas. Dan setiap anak anak berbakat di masing-masing pelajaran atau dibidangnya karena setiap anak adalah unik, bukannya di matematika, Bahasa dan IPA, sementara target nilai UAN terlalu tinggi, tiap tahunnya dipatok pemerintah berbeda dengan di lapangan yang tiap sekolah memiliki kulitas gedung, peralatan, guru dan kreatifitas belajar yang berbeda. Ada yang tinggi, rendah seadanya, kekurangan dan kelemahan. Bagaimana dengan anak yang sangat cerdas di bidang musik atau olahraga misalnya? Apakah mereka bisa disebut bodoh? Sementara orang yang cerdas matematika dan logika, bahasa  serta pelajaran eksakta atau mata pelajaran yang di UANkan belum tentu  bisa dibidang musik dan olah raga. Sementara orang banyak yang berhasil di masyarakat apakah yang jago pelajaran itu atau lulus dengan nilai tertinggi?  Karena ada kecerdasan emosi dan Spritual yang mereka miliki yaitu pandai bergaul dan manajemen Emosi diri sendiri dan orang lain  dari pada hanya mengadalkan IQ. Lagi pula IQ, EQ dan SQ harus disatukan tidak dipisah-pisahkan, begitu juga semua pelajaran harus dihargai semuanya dan sesuai dengan bakat dan minati sehingga dia menjadi seorang yang sangat ahli. Bukanlah yang digabungkan lebih sempurna dan kuat karena saling mendukung dan membantu. Ah! kepanjangan mikirnya yang penting saat ini aku harus santai, tenang, yakin dan pasrah. Persiapan udah, berdoa udah tinggal ihklas menjalani semuanya.

Ini hari kedua UAN, aku sempat melihat Andri di bawa guru ke kantor saat jam Ujian sudah di mulai. Entahlah apa sebabnya karena aku dan Andri beda ruangan. Sampai hari ketiga aku tak sempat ketemunya dengannya, sibuk. Dan setelah ujian selesai, hari kebebasan, yang sebenarnya hari berdebar-debar dan harap-harap cemas bukan bebas dan tenang seperti kebanyakan mereka bilang telah selesai ujian. Belum tentu mereka bebas selamanya dari sekolah karena telah lulus. Bisa saja dia harus mengulang setahun atau ikut paket C? atau selamanya gagal kerja atau masuk UMPTN dan orang yang menanggung malu. Apakah ini kebebasan? Tidak bukan. Tapi ah memang aku juga merasa lega dan tenang dan bebas setalah habis berkutat memeras otak. Alhamdulilah, urusan lulus tidak jangan di pikirkan, nanti stress lebih baik refresing. Main atau silaturahmi?

Tak disanggka Andri main duluan ke rumah.

“ Kamu benar San bahwa kita jangan mengantungkan diri pada contekan.” Kata Andri.

Aku mendongak, serius.

“memangnya kenapa?” tanyaku.

Andri menceritakan bahwa dia di geladah oleh pengawas killer dari sekolah lain yang sentimen sok sesuai dengan aturan. Ada kertas contekan di sakunya yang lupa di simpan di tas diluar kelas, karena Andri membukanya sebelum masuk ujian kedalam kelas. Tak ayal Andri di siding di pokja ujian setelah mendapat penjelasan Andri, jaminan dari pihak sekolahnya dan dimarahi sebentar serta menandatangani surat perjanjian dan laporan Andri di bolehkan mengikuti ujian. 15 menit dibuangnya, karena kesalah yang tak disengaja Andri tak sempurna menjawab soal-soalnya. Waktu yang mepet dan kondisi yang shok. Padahal hari itu pelajaran matematika yang paling di sukainya, kecewa dan menyesal karena tak puas menjawab semua soal dengan tenang dan lancar.

“ Kan aku sudah bilang kalau apapun yang kita lakukan besar atau kecil salah atau benar pasti ada resikonya. Apalagi itu perkara subhat, maaf lho… bukan maksud aku mengguruimu. Cuma mengingatkan.”

“ Iya san, makasih atas nasihatmu, aku saja yang terlalu benar sendiri. Sombong. Memang benar seperti yang kamu katakana kalau kita jangan terlalu menggantungkan diri pada selembar atau atau secarik kertas apalagi di jadikan pegangan, kita jadi lupa karena seharusnya berpegang.”

“ Kalau membuat contekan atau rangkumannya sih aku setuju saja. Its oke gak masalah. Tapi itu loh… menjadikannya pegangan di bawa kesekolah sebagai sugesti untuk menambah rasa percaya diri dan ketenangan. Tanpa sadar kita sudah menjadikan barang itu sebagai Ajimat. Pada hal kita hanya boleh menggantungkan diri, berpegang dan berharap pada Allah saja, bukan pada kertas kecil yang memberi ketanangan tapi berserah pada Allah lah. Tanpa kita sadari kita sudah melakukan syirik kecil, padahal sekecil apapun syirik tak boleh ada dan memberi kesempatan di dalam hati kita, karena itu sama saja dengan mentuhankan  contekan bukan Allah lagi Tuhannya. Begitu maksudku dulu.”

“ya Aku mengerti. Aku baru sadar semua kebenaran ucapanmu. Aku takabur jadinya malah begini, syirik dan nilai ku ancur berantakan. Tak tau deh.”

“sudahlah kamu yang sabar. Jangan terlalu mementingkan nilai yang penting kamu paham dan mendapatkan ilmunya, bisa-bisa tuhan kamu lagi-lagi jadi nilai deh. Yang penting kamu mendapatkan suatu pelajaan bahwa mentuhankan nilai itu tidak baik sampai dengan membuat cara menghapal yang tak disadari membuat kamu jadi mentuhankan contekan, itu adalah Hikmah yang besar dari Allah”.

  Alhamdulilah San, lagi-lagi kamu memberi Aku peringatan dan pelajaran berharga. Memang kamulah sahabatku, seorang sahabat sejati yang tak hanya menjadi teman belajar dan bermain tapi juga menjadi penuntunku. Aku tenang dan lega sekarang, tak peduli nilaiku jeblok yang penting Aku tak sersesat di jalanNya.” Lagi-lagi Andri seperti terhenyak oleh kata-kataku.

Syukur alhamdulilah kamu mengerti semuanya. Tapi jangan terlalu berlebihan memujiku dong. Aku takut jangan-jangan aku jadi  riya lagi”

Andri menatapku tersenyum aku membalasnya. Andri dan Ihsan, dua sahabat baru namun sudah saling memberi arti.

 

Sukajaya, Langit sore 27 Me 2009

Kumara Asih

 

 

Tue, 22 Dec 2009 @23:09


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+4+3

Welcome
image

Kumara Asih

Kumara_asih@Yahoo.co.Id


KUMARA KOMPUTER
JL.Raya Purwadadi-Wanakerta
INDONESIA
Komentar Terbaru
Mau Punya Website ?

Cek Nama Domain ?

Semudah Copy & Paste

Kami sediakan cara cepat untuk mengelola Halaman Web atau Blog Anda, Jika Anda masih Kurang mengerti silahkan hubungi Costumer Services Kami
Klik disini untuk masuk ke tutorial  atau kunjungi www.sitekno911.com

Demi Masa....................

 "Hidup Adalah Hari Ini Detik Ini, Masa lalu adalah History, Masa depan adalah Mystery . Maksimalkan Hari Ini Detik Ini Untuk Ibadah Kepada Allah "

By

DZA


Copyright © 2010 Eli Herlina ( Kumara Salsabila) · All Rights Reserved
Proudly Powered by sitekno